Pelayan: "Kelihatannya Anda menikmatinya. Bagaimana dengan sebotol wine?"
Sierra: "Hmm, tolong ya."
Pelayan: "Tak perlu sungkan, suatu kehormatan bagi saya."
Sierra: "Ngomong-ngomong, Pelayan, bagaimana keadaan tuan? Sudah lama aku berharap melihat wajahnya."
Pelayan: "Mohon maaf. Tuan tidak bisa mengatakannya secara langsung karena ada urusan barusan. Kepada Nona Sierra, tuan menitipkan salamnya."
Sierra: "Hm, begitu ya. Padahal diberitahu kalau aku datang singgah. Meski ada kewajiban pun, tidak ramah ya."
Pelayan: "........."
Sierra: "Tetapi, bangunan asing yang bagus, bukan? Dirawat dengan sangat cermat."
Pelayan: "Suatu kehormatan menerima pujian Anda."
Sierra: "Menara yang di pusat bangunan itu digunakan untuk apa? Menara yang sangat besar."
Pelayan: "Di dalamnya dijadikan kapel. Sebab tuan adalah orang yang sangat religius."
Sierra: "Hmm. Bagaimana di atas, sepertinya pemandangannya bagus. Bolehkah besok saya naik untuk melihat?"
Pelayan: "Tanpa seizin tuan, tidak boleh pergi menuju ke menara, kami mohon maaf."
Sierra: "Peraturannya, banyakkah orang yang boleh berada dalam menara?"
Pelayan: "Tidak. Kira-kira bisa jadi hanya satu orang."
Sierra: "Hm..."
Pelayan: "........."
(Beberapa saat kemudian)
Nash: "Hahahaha, kenyang, kenyang. Katakan pada koki. Kau bisa melampaui kesuksesan Crystal Valley sekalipun."
Pelayan: "Kami senang Anda puas."
Sierra: "Hm, terima kasih jamuannya. Meski sedang dalam urusan pun, sampaikan salam dari Sierra."
Pelayan: "Dengan senang hati. Besok pagi, karena kupikir tuan akan ada kesempatan, akan kusampaikan seperti itu."
Sierra: "...Hm. Malam ini dilewatkan tanpa suara kah."
Nash: "O, tunggu sebentar, Sierra. Maksudnya..."
Sierra: "Bagi orang, dalam hal menyatakan kesungkanan, siapa pun... (astaga, aku bener2 bingung maksudnya apa! --a )
(Layar menjadi hitam)
??: "Mungkinkah benar-benar tidak apa-apa untuk tidak memberitahukan soal "Tuan Pelopor" pada tuan?"
??: "...Jangan repot-repot. Sampai pada besok pagi, semua akan sudah dibereskan. Kau juga, jangan gegabah."
??: "....baik..."
(Di kamar tidur)
Sierra: "Baiklah... ayo tidur. Kau juga, malam ini istirahatlah yang tenang."
Nash: "Kalau begitu, aku juga..."
Sierra: "Tidak lebar, ranjangnya hanya muat satu orang yah."
Nash: "Ya... Karena itu..."
Sierra: "Kamu... Untuk kamu seranjang denganku, apa bijaksana?"
Nash: "Aku?"
Sierra: "Apa harus kukatakan sajian makanan penutup?"
Nash: "Makanan penutup... Ah, darah!!! A, aku cukup puas di sofa saja."
Sierra: "Kasihan sekali."
(Tengah malam)
Lampu padam, aku dan Sierra tidur di tempatnya masing-masing. Saat ini aku terbangun disadarkan oleh semacam tanda-tanda, tengah malam benar sudah lewat. Meski prajurit pun, ini bukan kondisi yang menguntungkan. Selelah apa pun, syarafku terlatih cekatan dengan sendirinya menangkap hawa nafsu pembunuh walau samar-samar.
Nash: "Sierra... Sierra!"
Sierra: "Berisik. Kau membangunkanku."
Nash: "...Tidak sadar kah? Seseorang datang."
Sierra: "Yah. Kau tidak merasa memanggil room service?"
Nash: "Apa ada room service yang haus darah macam begini? Ada... 2... 3... 4 orang. Berusaha menyembunyikan suara langkah, tapi sepertinya tidak terlatih dengan baik."
Sierra: "Hoo. Meski hanya dari suara langkah, bisa tahu dari itu ya. Kerja yang bagus untuk seorang manusia ya."
Nash: "Suatu kehormatan menerima pujian darimu, eh? ...Bagaimanapun juga, ....Sierra, 'teman lama'-mu itu, jangan-jangan..."
Sierra: "Benar dia 'sejenis'-ku, itu kan yang mau kau katakan?"
Nash: ".........."
Sierra: "Biarpun begitu, mengenai urusanku, itu hanya formalitas. Musuh-musuh kecil, kuserahkan padamu."
Nash: "Sejak awal, itu tujuanmu kah..."
Sierra: "Begitulah. Jika kau juga pengejar True Rune, kau pasti tahu hal itu."
Nash: "Tahu apa?"
Sierra: "Pemegang True Rune biasanya tidak pergi bersama orang lain."
Nash: "Jadi begitu... Akan kuingat baik-baik."
Lantai memberitahu telingaku, suara langkah menajamkan syarafku. Di ruangan itu aku mengukur bentuk badan dari jangkauan langkah kaki, dan dari derakan lantai berat badan dapat diperkirakan. Meski berusaha tidak membuat bunyi, mereka amatiran... Tapi, bukan waktunya hanya memasang perangkap dengan cermat. Untuk berada di sini, sepertinya tidak ada jalan lain selain menerobos mereka. Kepala dan lengannya sudah kelihatan. Aku menginspeksi bagian dalam kamar itu dengan sunyi. Di dalam kamar mandi, di balik bathtub ada air sisa di dalamnya. Di sebelah sini, ada cermin rias yang besar. Jadi...
>Membalikkan bathtub dengan diam-diam
>Memindahkan cermin
>Memeriksa gerak-gerik lawan
>>>
Senin, 12 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar